It’s all in Serendipity, God’s wisdom above us all…

December 25th, 2005 by mercury

When we rekindle the fire of passion, often we fail to recall the very essential truth of life itself. It’s all in Serendipity, God’s wisdom above us all…

Aku jatuh dan hancur di hadapan kenyataan. Kesempatan telah datang lagi dan sekali lagi, ia pergi lagi. Tidak habis tanya ini berkumandang.
Mengapa Tuhan menyalakan api kasih sayang, dan di hari berikutnya meniupkan angin dingin dan membekukan lidah kemerahan yang sedang menari itu?
Mengapa ia dapat memaksaku tersenyum, di saat yang ingin aku lakukan adalah jatuh berlutut dan menangis?
Mengapa ia dapat membuat hatiku tegar kuat, di saat yang ingin aku lakukan adalah hancur bersendu dan meratap?
Mengapa ia dapat menjatuhkan aku ke dalam keadaan ini, di saat yang ingin aku lakukan adalah terus berjuang demi cinta?

Tapi, aku tahu, dan aku sadar. Semua ada alasannya.
Jika tidak hari ini, kasih, kau menjadi milikku, berarti belum saatnya aku merengkuhmu.
Jika tidak hari ini, kasih, kau menjadi milikku, berarti aku masih perlu memupuk rasa cintaku padamu.
Jika tidak hari ini, kasih, kau menjadi milikku, berarti kau masih perlu memupuk rasa cintamu padaku.
Jika tidak hari ini, kasih, kau menjadi milikku, berarti kita perlu saling menumpuk rindu dan kasih satu sama lain.
Jika tidak hari ini, kasih, kau menjadi milikku, berarti Tuhan sedang mempersiapkan masa depan bersama kita berdua.
Jika tidak hari ini, kasih, kau menjadi milikku, berarti Tuhan sedang mempersiapkan balasan yang setimpal bagi pendampingmu saat ini.
Jika tidak hari ini, kasih, kau menjadi milikku, berarti Tuhan sedang membuat pendampingmu merelakanmu bagiku.

Dan jika memang kau bukan untukku, aku akan bersedih. Dan terluka. Dan aku harap, Tuhan mengasihiku.

Tapi, sampai hari di mana kau tidak lagi mungkin jadi milikku, aku percaya kau masih akan jadi milikku.

I’m Not Okay…

December 19th, 2005 by mercury

Soundtrack : My Chemical Romance - I’m Not Okay

Losing someone is a painful thing, but losing her AGAIN is a thing, much much more painful. Mungkin ini masalahnya dengan takdir Tuhan. Di satu saat, semuanya berjalan seperti apa yang kita inginkan, tapi di detik berikutnya, kita berjalan melawan seisi dunia dan semua mata angin. Not that it will make me falter. Tidak, tidak ada yang bisa membuat gentar cinta sejati, bukankah begitu? Sudah hampir satu dekade kulewati, dan apa artinya satu dekade lagi menunggu? Bukankah akan ada hal-hal yang baik bagi mereka yang setia menunggu? All is fair in love and war? Hahahaha, andaikan saja aku bisa sekejam itu. Apakah kusanggup melawan semua takdir dan kenyataan ini? Rasanya tidak, tapi aku hanya akan berhenti ketika jasadku hancur dan tak bersisa.

Cinta itu abadi. Sebelum kita bertemu, cinta itu sudah ada. Ketika kita bertemu, cinta itu mengeluarkan sinarnya. Ketika aku jatuh cinta, cinta itu mengembangkan dirinya dan mengisi seluruh rongga kehidupanku. Ketika dia pergi, cinta itu bersembunyi, tapi terus membisikkan namanya. Ketika aku jauh dan hilang, cinta itu mengingatkanku pada dirinya. Ketika aku hancur dan rapuh, cinta itu membangkitkan niat untuk hidup dan berjuang. Ketika waktu berlari dan berjalan dan merambat, ketika satu windu berlalu dengan satu tahun lanjutannya, cinta itu mengingatkan aku bahwa dia layak diperjuangkan. Ketika kita bertemu kembali, bayangkan betapa terangnya sinar yang telah tertahan sedemikian lama. Betapa harum dan indahnya cinta merebak dan menyanyikan namanya dalam hymne yang sangat merdu. Hymne yang mengiringi doaku kepada yang Maha Kuasa, doa agar Dia tidak memisahkan kita lagi. Doa agar kita dapat bahagia. Doa agar tidak lagi hatiku sakit dan hancur. Doa yang setulus-tulusnya.

Tapi, Dia punya rencana yang lain.
Apakah Dia merasa aku belum menunggu cukup lama?
Apakah Dia merasa aku belum cukup menderita?
Apakah Dia merasa aku belum cukup berjuang?
Apakah Dia merasa aku belum cukup hancur?
Apakah Dia merasa aku belum cukup dewasa?
Apakah Dia merasa aku belum pantas untuknya?
Apakah Dia merasa aku kurang cukup mendapat cobaan?
Apakah Dia merasa aku kurang cukup berdoa selama ini?
Apakah ini yang Kau putuskan atasku, ya Tuhanku?

Mengapa kembali Kau jauhkan dia dariku?
Mengapa kini Kau mengulangi kembali penderitaan yang dulu telah aku telan?
Mengapa tidak Kau getarkan hati kami berdua, seperti apa yang aku hembuskan dalam tiap doaku?
Mengapa tidak Kau satukan kami berdua, seperti apa yang aku bisikkan dalam tiap doaku?
Mengapa tidak Kau luruskan jalan kami berdua bersama, seperti apa yang aku teriakkan dalam tiap doaku?
Mengapa tidak Kau kabulkan doaku, setelah sekian lama mulut ini meminta?

Kini, kembali, kenyataan dan seisi dunia melawanku. Aku berjuang sendiri, melawan terpaan seluruh mata angin. Dan aku tidak akan menyerah, aku tidak akan kalah, aku tidak akan hancur dan mati, aku tidak akan menunduk dan aku akan terus melawan, berjuang. Aku hanya akan kalah ketika aku hancur. Aku hanya akan mati berjuang ketika badanku hancur.

Dan aku harap dia akan selalu ingat, setiap desir angin yang bersembus melewatinya, setiap jengkal tanah yang berada di bawahnya, setiap awan dan hujan yang memayunginya, setiap helai cahaya dari api kecil yang bergoyang, setiap hujan cahaya dari matahari, setiap tarikan nafas, setiap denyut nadi, doa dan harapku tidak pernah punah.

Sehari berlalu….

September 11th, 2005 by mercury

Sepertinya setiap hari itu tidak ada yang berubah. Kita hidup bermain wajah dan watak. Semakin hari, kita menemukan topeng baru lagi untuk kita pakai di hari depan. Topeng yang menyuratkan nyanyian merdu dan menyiratkan kata-kata yang tidak ingin kita ucapkan. Kata-kata yang menyampaikan keinginan yang tidak kita pikirkan. Keinginan yang menggambarkan jiwa kita yang masih sangat primitif. Jiwa yang berusaha menggapain kebutuhan dasar yang terkadang kita tidak akui. Kebutuhan dasar yang mengingatkan kita, bahwa kita sesungguhnya adalah manusia. Lahir dari nafsu(baca:cinta) dan mati karena nafsu(baca:cinta). Kita butuh kemunafikan untuk mengungkapkan bahwa diri kita adalah manusia. Kenapa Qabil/Kain membunuh Habil/Abel? Karena cinta? Atau karena nafsu? Yang benar, karena dia adalah anak manusia. Karena dia adalah manusia. Anak dari manusia pertama yang baginya seluruh penghuni langit (kecuali Tuhan dan sang Syaitan/Satan/Lucifer atau siapa pun nama makhluk itu) menunduk. Manusia yang seharusnya terhormat dan mulia. Dan seperti itulah Tuhan menciptakan manusia. Sesempurna mungkin.

Kita berjalan di garis yang melingkar. Kita melihat garis itu lurus, tapi sesungguhnya garis itu melingkar. Kita tidak menyadarinya, karena kita terlalu terfokus kepada apa yang ada di hadapan kita. Mengingatkan kita pada bumi yang kita pijak. Manusia terlalu memperhatikan norma-norma, hukum, aturan, undang-undang, peraturan dan semua ikatan yang ada hingga lupa, bahwa mereka adalah manusia. Kita butuh topeng untuk hidup dan bertahan hidup. Walau pun itu untuk menipu sesama manusia. Kenapa? Karena manusia tidak ingin manusia lain tahu kalau dia adalah manusia. Manusia ingin manusia lain tahu bahwa dia adalah seorang sosok yang ia bangun. Sosok yang ia nilai sempurna. Dan ia merasa sempurna dengan topeng itu. Sesempurna bayangan topeng itu di benaknya.

Manusia hanya merobek dan menghancurkan topeng mereka di saat-saat jiwa primitif mereka bicara. Topeng, yang tercipta dari kemunafikan, paling tidak masih memiliki keinginan untuk tidak munafik. Mereka jujur terhadap tujuan mereka diciptakan. Topeng berbicara dan berbisik. Mereka berbicara kalimat yang menggetarkan surga dan mencakar neraka. Mereka bicara apa yang diinginkan sang pembuat topeng. Kata-kata yang akan menjadi identitas dirinya. Identitas yang dia inginkan. Identitas palsu. Sedangkan, bisikan lirih yang dihembuskan sang topeng, adalah bisikan primitif yang paling jujur dan murni. Bisikan semurni tangis bayi. Yang menangis ketika ingin menangis. Yang tertawa ketika ingin tertawa. Yang mengatakan apa yang ingin ia katakan.

Akankah manusia berani hidup tanpa topengnya?

Susah ya buat cerita unik…

March 23rd, 2005 by mercury

Mau buat film untuk kompetisi Global TV, tapi emang ya, ternyata membuat film yang unik dan aneh itu jauh lebih susah dari membuat film yang menekankan ke acting. Kalau film acting, cerita bisa simple, tapi watak pemainnya yang kuat. Itu powernya. Tapi, kalau yang mesti unik dan aneh, itu yang bikin stress.

Hehehe, but it’s fun.